Membaca Tidak Hanya Buku

Membaca Tidak Hanya Buku

Danu Saputra (Guru Primary Sekolah Kinderfield Duren Sawit)Saya yakin akan lebih mudah mengajak anda bersepakat jika membaca merupakan kegiatan yang baik, yang akan memberikan banyak manfaat. Daripada mengajak anda bersepakat bahwa yang dimaksud membaca tidak harus melulu terkait dengan buku.

Dalam zaman yang bergerak ini, media yang dapat dibaca terus bertambah. Bagi anda yang berpendapat bahwa membaca itu harus menjadikan buku dan segala media cetak lain sebagai objek, tepat di titik ini kita berbeda pendapat. Bagi saya, membaca tidak harus melulu buku dan media cetak. Perkembangan internet dan tumbuhnya beragam situsweb yang menawarkan banyak sekali pilihan bacaan membuat membaca di dunia maya menjadi sangat menarik. Dan, memilih untuk membaca di dunia maya, bagi saya tetaplah dapat disebut membaca.

Beberapa orang yang saya kenal, dulu tidak berlangganan koran, mereka membaca koran hanya di tempat mereka bekerja. Saat ini, mereka tetap tidak berlangganan koran, tetapi mereka rajin untuk membaca berita dari beragam situsweb portal berita. Ini berarti mereka mengalami peningkatan minat membaca dan itu tentu saja merupakan peningkatan yang baik.

Lebih jauh lagi bahkan, membaca seharusnya dilepaskan dari teks, sehingga membaca bisa dimaknai lebih luas. Arah angin, pergerakan awan, kepadatan lalu lintas, dan segala sesuatu di sekitar kita sesungguhnya dapat menjadi sesuatu yang dapat kita baca.  Seorang antropolog, Saur Marlina Manurung yang lebih akrab dipanggil Butet Manurung, pernah mengatakan jika alam dan lingkungan membuat orang pedalaman terbiasa membaca tanpa media buku. Jika ingin menangkap tupai, maka orang pedalaman membaca dahulu vegetasinya dan arah angin, barulah kemudian mereka mempelajari dan mempraktikkannya.

Dengan memandang kegiatan membaca tidak hanya terkait dengan teks, maka kita akan menyadari bahwa kegiatan membaca merupakan kegiatan yang sebenarnya tidak dapat lepas dari kehidupan sehari-hari. Hanya saja memang setiap orang perlu berlatih agar pandai membaca, baik itu membaca teks maupun membaca yang bukan.

Di tempat saya bekerja, “Kinderfield School,” membaca merupakan kegiatan yang mendapat porsi khusus dalam setiap kegiatan di sekolah, baik membaca teks maupun membaca dalam arti yang lebih luas. Beberapa program seperti Library Time yang dilaksanakan seminggu sekali, Reading Corner dan Pohon Literatur yang ada di tiap kelas serta ekstrakurikuler Good News Club, merupakan bentuk keseriusan sekolah dalam mengarahkan para siswa agar tidak kehilangan minat membaca.

Sedangkan membaca dalam arti luas, merupakan pengejawantahan dari tiga poin dalam sembilan karakter yang dibangun oleh sekolah, yaitu aware, controlled personality, sociable dan sustainable. Kinderfield juga rutin mengadakan field trip dan beberapa kegiatan di alam terbuka sebagai salah satu cara para siswa membaca lingkungan baru bagi mereka. Kegiatan di alam terbuka yang baru saja Kinderfield langsungkan pada tanggal 10 September 2016 lalu adalah lari marathon di Bumi Perkemahan Cibubur. Kegiatan itu sekaligus sebagai puncak acara Charity Week yang sudah diselenggarakan di sekolah sejak tanggal 5 September 2016.

Tentang field trip dan lari marathon yang dilangsungkan Kinderfield, saya menjadi teringat ucapan Santo Augustinus: “dunia adalah sebuah buku, dan mereka yang tidak melakukan perjalanan hanya membaca sebuah halaman.”

Melihat betapa Kinderfield memperhatikan minat baca para siswa, ada kebahagiaan yang perlahan masuk ke hati saya yang membuat hari-hari di sekolah menjadi hari-hari yang sangat menyenangkan.

head office

Jl. Prof. DR. Soepomo No.11A Jakarta Selatan, Indonesia. 12810

phone: (+62 21) 830 3209 / 9828 4968

fax: (+62 21) 8378 5529

Subscribe to our Newsletters